Beranda PURWAKARTA 18 Desa Termasuk Zona Merah

18 Desa Termasuk Zona Merah

21
0
ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES RAWAN LONGSOR: Menghadapi musim penghujan DPKPB Purwakarta menginventarisasi titik-titik rawan bencana di sejumlah kecamatan.

Waspada, Musim Hujan Rawan Bencana

PURWAKARTA-Beberapa wilayah di Kabupaten Purwakarta masuk ke dalam katagori rawan pergerakan tanah, banjir, dan angin ribut (zona merah). Memasuki musim penghujan, Pemkab Purwakarta ambil langkah antisipasi dengan menginventarisasi titik-titik rawan bencana di sejumlah kecamatan.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono mengatakan, di wilayah Kabupaten Purwakarta setidaknya ada 18 desa di enam kecamatan yang termasuk zona merah, di mana salah satunya adalah Kecamatan Jatiluhur.

“Wilayah yang masuk ke dalam zona merah, yaitu rawan pergerakan tanah dan tanah longsor,” ujarnya kepada koran ini, Rabu (11/10).

Dijelaskannya, wilayah yang masuk zona merah ini memiliki sifat demografi yang sama, yakni kontur tanahnya termasuk wilayah patahan. “Sehingga, saat intensitas hujan tinggi, maka tanah tersebut rawan bergerak dan longsor. Ini yang harus diwaspadai,” kata Wibi.

Ditemui terpisah, Camat Jatiluhur Asep Supriatna mengatakan, di wilayahnya terdapat 10 desa dan pihaknya sudah menginstruksikan masing-masing RT/RW di setiap desa tersebut untuk melaporkan data wilayah yang rawan bencana. Terlebih, sambungnya, dari 10 desa tersebut ada yang masuk ke dalam zona merah, yakni Desa Cisalada dan Parakan Lima.

“Kami sudah mengeluarkan instruksi kepada setiap desa untuk segera menginventarisasi wilayahnya yang rawan bencana,” ujarnya.

Menurut Asep, di wilayahnya juga terdapat sejumlah objek vital nasional yang keberadaannya harus terus dipantau. Di antaranya Bendungan Jatiluhur dan jalur kereta api Jakarta-Bandung.

“Terutama jalur kereta yang melintasi wilayah Jatiluhur kerap kali ada masalah saat musim penghujan. Misalnya tanah penyangganya longsor sehingga, menyebabkan kereta anjlok,” kata Asep.

Pun halnya dengan Bendungan Jatiluhur di mana ketinggian air di waduk tersebut harus terus dipantau. “Sebab, bila melebihi ketentuan, air bisa limpas ke bendungan. Imbasnya, debit air yang digelontorkan keluar melalui Sungai Citarum akan sangat besar,” ujarnya.

Jika debit Citarum besar, sambungnya, salah satu desa di wilayahnya yakni Cikao Bandung akan terdampak banjir. “Peran RT/RW dan kepala desa sangat penting untuk segera melaporkan kondisi di lingkunganya masing-masing. Bila laporannya sejak dini, maka kami bisa mencari solusi yang tepat dan akurat untuk mengantisipasi bencana tersebut,” ucapnya.(add/epl)