Beranda BANDUNG 1 Ton Tomat Busuk Banjiri Jalan Kampung Cikareumbi

1 Ton Tomat Busuk Banjiri Jalan Kampung Cikareumbi

84
0
EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES MERIAH: Warga Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Lembang bersemangat mengikuti 'Rempug Tarung Adu Tomat' yang menjadi agenda tahunan di desa tersebut.

Masyarakat Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, gelar perang tomat pada acara hajat buruan. Tradisi perang tomat di kawasan Lembang yang baru berjalan lima tahun ke belakang, menjadi agenda tetap yang diselenggarakan tiap tahun saat awal bulan Muharam.

‘Rempug Tarung Adu Tomat’ atau perang tomat awalnya diselenggarakan atas keperihatinan warga atas banyaknya tomat busuk saat itu. Terlebih harga tomat kala itu anjlok di pasaran.

Lantaran tak sebanding dengan modal bertani tomat, para petani membiarkan buah berbentuk bulat itu membusuk. Saat itu, masyarakat pun memanfaatkan tomat-tomat busuk itu menjadi suatu aktivitas berupa perang tomat.

Kepala dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat, Sri Dustirawati mengatakan perang tomat merupakan sebuah refleksi para petani Kampung Cikarembi yang dikemas pada sebuah nilai budaya atau tradisi. Sehingga jika dikemas lebih menarik kegiatan ini bisa menjadi sebuah daya tarik wisata.

“Ini bisa dijadikan sebagai daya tarik. Bisa dipercantik oleh atraksi budaya. Ini bisa menarik wisatawan. Mudah-mudahan bisa menjadi event lebih besar lagi,”katanya.

Sri menambahkan, yang menjadi menarik selain perang tomat adalah, adanya upacara adat yang bertujuan memelihara alam, yaitu ngaruat cai. “Ada nilai silaturahmi dan kebersamaan dalam menjaga alam. Khususnya sumber air sebagai sumber kehidupan,”paparnya.

Menurut pantauan Pasundan Ekspres, sebelum prosesi perang tomat dimulai, para tetua adat dan warga menggelar upacara di mata air di Gunung Hejo.
Upacara tersebut merupakan upacara hasil bumi. Mereka mengambil air di mata air itu dan menuangkannya ke dalam teko, bejana, hingga botol plastik.

Para tetua adat melantunkan do’a-do’a keselamatan bumi. Lalu ada arak-arakan jampana, mengarak hasil bumi seperti sayur-mayur dan padi dengan hasil bumi sendiri. Ratusan warga mengiringi arak-arakan yang dimeriahkan juga oleh aksi kesenian badawang dan sisingaan.

Didi, warga Kampung Cikareumbi mengatakan, selain menjadi hiburan juga sebagai ajang silaturahmi antar warga.

Salah seorang warga, Didi, mengatakan tomat yang dipakai adalah tomat ‘apkir’ atau tomat busuk. Dan setelah melakukan perang tomat, tomat tersebut dikumpulkan kembali dan dijadikan pupuk organik.

“Kali ini ada sekitar satu ton lebih, memang sih terlihat mubajir. Tapi itu tomatnya tomat sisa dan busuk. Nantinya juga akan dijadikan pupuk,”ucapnya.

Didi berharap, dengan adanya hajat lembur dan ruwat cai, selain melestarikan budaya, juga memberikan kesadaran pada warga akan pentingnya memelihara alam.

“Semoga dengan ‘ngamumule’ budaya dan alam, saling memberi manfaat antara alam dan manusia,”tandasnya. (eko/tra)